Source APC Newsgroup: act.indonesia
Written by: cdi@aceh.wasantara.net.id
Date: 08 Nov 1998 23:11:57
Subject: KEKEJAMAN MILITER DI ACEH
From: Citra Desa IndonesiaKEKEJAMAN MILITER DI ACEH
Kekejaman militer di Aceh, yang terjadi sejak diberlakukan DOM 1990-1998
berbagai macam. Misalnya yang diadukan Saodah Aleh (41) mengenai nasib
suaminya M Jalil (40), warga Desa Maneh, Kecamatan Geumpang, Pidie yang
oleh aparat diduga terlibat GPK ini disudahi di Alue Bayuen, Aceh Timur,
sekitar 250 Km dari desanya, di suatu hari di tahun 1990. Menurut Saodah,
suaminya itu sedang mendulang emas di Alue Bayuen ketika dibunuh petugas,
dan petugas ini kemudian membawa pulang kepalanya ke kampung asalnya, Desa
Maneh, Pidie. Sedangkan tubuh korban ditinggalkan di TKP.Kedatangan aparat ke rumahnya, dengan membawa kepala suaminya —dan itu
disaksikan oleh banyak penduduk Desa Maneh— ternyata belum membuat derita
Saodah berakhir. Sebab, setelah kepala suaminya diserahkan, giliran
rumahnya pula yang dibakar.Kemudian, kejadian yang menimpa Syech Asnawi Yahya (32), sarjana FKIP Jabal
Ghafur, Sigli. Sebagai Keuchik di Blang Kulam, Kecamatan Batee, ia tak mau
warganya disiksa oleh oknum aparat atau diculik dengan dalih ikut operasi.
Tapi, karena sering adu argumen dengan aparat mengenai masalah itu, ayah
dua anak itu pun diambil petugas pada suatu hari di tahun 1991. Lalu dibawa
ke jembatan Delima, Pidie. Dipasang tali di lehernya, lalu disuruh tarik
kepada beberapa warga. Dalam situasi begitu, petugas menyemburkan peluru ke
tubuhnya. Tewas di tempat. "Mayat adik saya itu baru boleh diambil
keesokannya oleh ibu saya," begitu lapor abang korban, kepada seorang relawan.Sulaiman Ali (40), mungkin tidak menduga akan mati dengan semirip Syach
Answai di atas. Warga Ulee Rubek Seunuddon, Aceh Utara, ini disiksa di Mata
Anoe, yang tak jauh dari desanya pada suatu hari di tahun 1990. Menurut
adik kandung korban, Tgk Nurdin Ali, yang melapor ke Peduli HAM, abangnya
itu diambil petugas selagi bekerja di tambak udang. Lalu diboyong ke kantor
aparat militer setempat, kemudian diangkut ke Lhoksukon. Di kedua tempat
ini ia disiksa dengan popor senapan mesin. Namun, karena masih bernyawa
akhirnya di tubuhnya diganduli batu sebagai pemberat, lalu ditenggelamkan
di Sungai Sampoiniet, Aceh Utara. Dua hari kemudian, tubuhnya timbul dan
dibawa masyarakat ke Masjid Raya Sampoinet untuk dimandikan dan dikafankan.
Lalu dikubur di pekarangan rumah Keuchik Kedai Sampoiniet.Sementara itu, korban lainnya bernama Zainuddin (27) ternyata masih
mengalami derita ketika sudah jadi mayat. Itu terjadi pada suatu hari di
bulan Agustus tahun 1991. Warga Seunuddon, Aceh Utara ini berangkat dari
Bireuen menuju Pantonlabu (Aceh Utara) pukul 01.00 dinihari. Para peronda
malam menangkapnya setiba di Pos Cempedak, Jambo Aye. Karena tak merasa
bersalah, ia melawan dan sempat dipukuli. Lalu, para peronda
menggelandangnya ke Meunasah Cempedak. Sebagian yang lainnya memanggil
polisi. Polisi datang, tapi korban melawan. Karena tampak garang, para
peronda lalu memanggil anggota pasukan elite di Alue Bili. Saat itu korban
lari ke kebun.Anggota pasukan langsung menembaknya secara membabi buta. Korban jatuh
bersimbah darah. Mayatnya dilemparkan ke parit di dekat balai pasar Ulee
Ruebek Timur, sekira pukul 03.00 dinihari. Kemudian, masyarakat mengambil
dan mengebumikan mayat tersebut.Esoknya, pukul 11.00 WIB kesatuan ABRI dari Korem Lhokseumawe datang ke TKP
ingin mengambil foto korban. Tapi, karena telanjur dikubur warga,
diperintahkan untuk dibongkar kembali. Setelah memotonya, kemudian mereka
pulang, dan warga mengubur Zainuddin kembali.Kasus lainnya adalah yang menimpa Imuem Sulaiman (40), mengalami hal yang
tak kalah sadisnya. Warga Lueng Dua, Simpang Ulim, Aceh Timur ini mengalami
nahas pada Jumat malam di tahun 1990. Saat itu, seperti dikisahkan adiknya,
M Daud (kini 40 tahun) yang melapor kepada relawan, abangnya yang
meninggalkan enam anak itu diambil petugas sewaktu kenduri di rumah Keuchik
setempat, dan dibawa ke Pos Lueng Puet, diinterogasi diikuti pukulan
bertubi-tubi.Hari Minggu korban dibawa ke lapangan bolakaki. Di sini ia dipukul dan
dipertontonkan kepada warga. Lalu, ia ditembak disaksikan ratusan warga
sebanyak dua kali. Tembakan pertama pada kepalanya, dan tembakan kedua di
bahu kirinya. Setelah roboh, petugas berlalu. Dan, jenazah korban
dimandikan dan disembahyangkan secara Islam, lalu dikebumikan hari itu juga.Ada pula kasus penyetruman. Idris (30), tamatan SMP. Ia dipermak di Murong
Cot, Kecamatan Sakti, Pidie, pukul 07.00 WIB di suatu hari tahun 1996.
Sebagai warga yang pendiam, Idris tergolong nekat. Ia diketahui menanam
senjata di dekat rumahnya atas suruhan orang lain dengan imb alan uang.
Karena ketahuan petugas, Idris ditangkap dan digelandang ke Lamlo. Delapan
bulan ditahan, kemudian ia dibuang di Cot Panglima di Takengon dengan
tangan dan kaki terikat . Matanya ditutup. Tapi, menurut pengaduan
istrinya, Rosmiati (28), Idris kemudian berhasil ke luar dari Cot Panglima
dan mencapai rumah pada bulan Ramadhan tahun 1996. Setelah itu, menghilang
lagi setelah pernah pulang pergi ke rumah sebanyak tiga kali.Belakangan, karena suaminya tak tertangkap, giliran si istri dibawa ke
rumah Gedong Aron. "Di situ saya ditelanjangi dan dikontak (maksudnya
disetrum, Red) sampai mengeluarkan tinja."Jika Rosmiati disetrom, maka Nyak Meulo (21) malah diperkosa. Wanita yang
tadinya gadis ini mengalami nahas pada tahun 1995 di Desa Pule Ie,
Kecamatan Tangse, Pidie. Nahas itu menimpa dirinya ketika kedua orangtuanya
pergi ke kebun dan menetap lama di pondok yang ada di kebun tersebut.
Menjelang satu tahun kemudian, ketika orang tua korban pulang, mendapati
anaknya sudah hamil. Nyak Meulo mengaku pada suatu hari, digagahi paksa
oleh oknum aparat. Giliran ayah Nyak Meulo mendatangani aparat yang
berinisial Suk itu, ternyata ia sudah dipindahtugaskan ke Batam sampai
sekarang. Akhirnya, kata ayah korban, M Ali Sabi (63), tinggallah pahitnya
pada keluarga mereka: anak yang ternodai dan seorang bayi tanpa ayah.Wakil Koordinator FPHAM, Dr Ahmad Humam Hamid MA, kepada Warta, Kamis
(27/8) menyebutkan bahwa data semacam di atas memang masih berasal dari
satu pihak saja. Karena itu forum yang dipimpinnya tak mengganggap seluruh
data yang dikumpulkan sebagai sebuah data yang seratus persen benar. "Kita
akan lakukan cross-check dengan pihak-pihak lain, ya LSM, LBH, DPRD, dan
sebagainya. Tak kalah pentingnya adalah pengecekan langsung ke kepala desa
dari desa asal korban atau pelapor," tutur Humam, yang juga PD I FP
Unsyiah. Agaknya, pengecekan ulang itu memang perlu, agar tak terjadi
fitnah di kemudian hari. Sekaligus sebagai bukti bahwa kerja forum itu
kerja kemanusiaan dalam bingkai kejujuran dan keadilan, bukan untuk menohok
lembaga atau pihak-pihak lainnya.n
Index E-mail Author Previous message Next message