Antenna Occasio Source APC Newsgroup: act.indonesia



Written by: solidmor@centrin.net.id
Date: 09 Nov 1998 09:28:09
Subject: SOEHARTO BANDIT ATAU PAHLAWAN?


From: "Solidamor"

SOLID-NET
Diterbitkan oleh SOLIDAMOR
Solidaritas untuk Penyelesaian Damai Timor Leste
Jl. Pramuka Jaya Sari No.9 Jakarta Pusat
Telpon: 4224078 Faks: 4226348
E-mail: solidmor@centrin.net.id
----------------------------------------------------------------------------
-------------------------------------

Dari Seminar "Kontroversi Peran Soeharto Dalam Sejarah Kontemporer
Indonesia":

SOEHARTO BANDIT ATAU PAHLAWAN?

Sejarah Indonesia yang telah diplintir dan dibengkokkan oleh Soeharto
dan konco-konconya, kini mulai diluruskan. Namun usaha pelurusan itu
tidaklah gampang. Karena selama tiga dasa warsa secara sistematis sejarah
telah diperlakukan sebagai alat bagi berlanjutnya kekuasaan. Soeharto
sebagai tokoh sentral dalam sejarah kini mulai dipertanyakan kebenarannya,
menyusul lengser keprabonnyanya Soeharto yang tak sempat jadi pandito itu.
Akan tetapi semangat memperbaiki sejarah hendaknya bukan dilandasi oleh
dendam, melainkan kepentingan masa depan bangsa.

Itulah benang merah dari diskusi sehari "Kontroversi Peran Soeharto
Dalam Sejarah Kontemporer Indonesia" yang diadakan Masyarakat Indonesia
untuk Kemanusiaan (MIK), Komite Aksi Pembebasan Tapol Napol (KAPTN) dan
Paguyuban Korban Orede Baru (Pakorba). Diskusi berlangsung Senin, 9 Nopember
1998 di Wisma Perwari, Menteng, Jakarta, dengan dihadiri sekitar tiga
ratusan peserta dari berbagai kalangan, termasuk para bekas tapol/napol dan
mahasiswa.

Pada sesi pertama tampil Mashuri, mantan menteri Penerangan, Mayjen
(Purn) Hario Kecik, mantan Pangdam Mulawarman dan Ki Oetomo Darmadi, tokoh
Yayasan PETA yang juga saudara Pahlawan Suprijadi, dan Beathor Suryadi
sebagai moderator. Sesi ini tampaknya yang menjadi bintang adalah Mashuri.
Tokoh yang dalam film "Pengkhianatan G 30 S PKI" karya Arifin C Noer
membangunkan Soeharto begitu terjadi pembunuhan beberapa jendral itu,
mengungkapkan beberapa fakta baru.

Menurut lelaki berusia 72 tahun itu, ada beberapa kejanggalan dari
peristiwa dan di mana keberadaan Soeharto saat itu. Ia pernah bertemu dengan
seorang pengusah asal Pekalongan bernama Tek Yong. Pengusaha ini adalah
kawan dekat Soeharto ketika masih di Kodam Diponegoro. Dari Tek Yong Mashuri
mengetahui bahwa Soeharto sangat sakit hati terhadap lima jendral rekannya,
karena mereka telah membongkar korupsi yang dilakukan Soeharto, sampai ia
dimutasi oleh Ahmad Yani. Menurut Mashuri lima jendral yang dibunuh pada
peristiwa itu adalah yang mengorek-orek kelakuan jelek Soeharto di Kodam
Diponegoro.

Pada sesi kedua tampil Letjen (Purn) A. Wiranatakusumah, mantan wakil
Pangkostrad, Dahlan Ranuwihardjo, mantan Ketua Umum PB-HMI, Stanley, penulis
buku Bayang Bayang PKI, dan Dr. Asvi Warman Adam, peneliti LIPI, serta Tri
Agus S. Siswowihardjo, moderator. Wiranatakusumah mengkacamatai peran
Soeharto dari sisi militer. Namun, meskipun sebagai mantan anak buahnya, ia
sampai saat ini tak tahu siapa sebenarnya Soeharto itu, bandit atau
pahlawan.

Sementara itu Dahlan Ranuwihardjo melihat sepak terjang Soeharto,
terutama seputar pengambilalihan kekuasaan dari Soekarno, dari disiplin tata
negara. Bagi Dahlan, Soeharto adalah jagonya rekayasa. Ia sejak dahulu
melakukan rekayasa untuk kepentingan dirinya atau kelompoknya. Dari yang
tanpa kekerasan misalnya dalam peristiwa Supersemar dan hilangnya dokumen
itu, sampai yang kekerasan seperti Penyerangan DPP PDI Megawati, penculikan
aktivis dan pembunuhan lainnya.

Stenley meyebut Soeharto sebagai dalang berbagai kerusakan di banyak sendi
kehidupan negeri ini selama tiga puluh tahun. Soeharto itu jenius, demikian
kata wartawan Jakarta Jakarta ini. Betapa tidak, melalui kekuasaannya yang
sistematis ia memenopoli tafsiran terhadap Pancasila dan konstitusi. Namun
di tangannya sejarah telah diplintir-plintir dan diobok-obok. Misalnya
peranan dia di Serangan Umum di Yogyakarta. Gagasan sebenarnya adalah datang
dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX, bukan dirinya. Di bawah perintah dia jua
penyeragaman dilakukan dari bahasa, cara berpikir dan aspek lainnya.

Pendapat Dr. Asvi Warman Adam lain lagi. Peneliti dari LIPI ini meyebut
Soeharto sebagai Mr. Alibi. Pasalnya dari beberapa catatan sejarah penting,
ia selalu menghindar dari peristiwa itu, padahal berbagai petunjuk menemukan
bahwa justru Soehartolah dalangnya. Soeharto seolah-olah tak tahu apa yang
telah terjadi sehari menjelang peristiwa G 30 S, padahal ia bertemu dengan
Kolonel Latief di rumah sakit. Ia mengutus dan merekayasa Supersemar
sementara ia pura-pura sakit di rumah. Pada peristiwa kerusuhan 12-15 Mei
1998 ia berada di Kairo, Mesir, sementara tangan-tangannya menjalar di
berbagai kerusuhan di tanah air dan Timor Timur. Menurut Asvi yang mengutip
pertanyaan seorang guru pelajaran sejarah di SMA, siapakah Soeharto itu
bandit atau pahlawan, maka ia harus diadili. Biarlah pengadilan yang
menjawab apakah ia bandit atau pahlawan.(tass)



Index E-mail Author Previous message Next message