Antenna Occasio Source APC Newsgroup: act.indonesia



Written by: alpine7637@aol.com
Date: 11 Nov 1998 00:33:15
Subject: Politik Adu Domba Kian Jelas Terlihat !!!!!!


Subject: Politik Adu Domba Kian Jelas Terlihat !!!!!!

In a message dated 98-11-10 11:54:13 EST, you write:

<< Selasa, 10 Nopember 1998


Kisah Pengaman Swakarsa

Dari Gelandangan Hingga Upah Rp 10 Ribu

detikcom, Jakarta - Keberadaan pasukan Keamanan (Kam) Swakarsa SI MPR 1998
ternyata menimbulkan masalah yang oleh banyak pihak dikuatirkan memicu
perpecahan bangsa. Celakanya, banyak di antara anggota Pam Swakarsa itu
yang mengaku tidak tahu menahu persoalan dan ikut-ikutan lantaran mendapat
upah Rp 10 ribu-Rp 20.000.

Rupanya, hati nurani tetap saja berlaku di tengah krisis ekonomi. Upah Rp
10.000 sampai Rp 20.000 per hari, memang cukup menggiurkan bagi Slamet yang
mengaku berasal dari Cianjur. Ia seorang pengangguran. Maka ketika ada
tawaran untuk ikut rombongan ke Jakarta untuk melihat SI dengan diberi upah
Rp 10.000 per hari plus makan, kontan saja ia tak menolak.

"Katanya sih disuruh kovoi saja keliling kota, nggak tahunya kok disuruh
perang, berantem,'kata Slamet, Maka kepada wartawan yang mengerumuninya di
sekitar gedung MPR Slamet pun mencurahkan isi hatinya. "Saya takut dan saya
memilih tidak ikut lagi, saya sekarang mau pulang,"katanya.

Ongkos pulang disakunya terdapat Rp 10.000. "Ini upah yang saya
terima,"katanya. Beberapa wartawan kemudian terketuk hati dan secara
patungan spontan mengumpulkan Rp 50 ribu untuk tambahan ongkos pulang Slamet.

Menurut Slamet, Pam Swakarsa itu umumnya diambil dari kawasan Banten,
Sukabumi, Tangerang, Cirebon, dll. Nyaris tidak ada yang dari Jawa. Dan
menurut penuturan Slamet, rekan-rekannya itu umumnya pengangguran,
gelandangan, dan juga preman-preman terminal ataupun pasar.

Hal itu dibenarkan oleh Otong, mengaku asal Sukabumi. Otong, mengatakan, ia
ikut bergabung dengan Pam swakarsa ini hanyalah sekadar ikut-ikutan diajak
ke Jakarta. Sesampai di lapangan parkir timur Senayan, ia sempat
terheran-heran ketika diberi pentungan. "Katanya sih untuk berjaga
diri,"tutur Otong.

Maka ketika saling lempar batu marak di seputar depan gedung MPR, Otong
kemudian memilih minggir tidak ikut-ikutan. Ia sebagaimana Slamet, memilih
membelot dan tak lagi ikut bergabung. "Wah takut saya,"kata Otong.

Isu bahwa Pam Swakarsa tersebut hanyalah pasukan bayaran rupanya sudah
beredar luas. Warga masyarakat di seputar Tugu Proklamasi Jl.Pegangsaan
Timur, Jakarta Pusat misalkan, meledek Pam Swakarsa yang menguasai Tugu
Proklamasi dengan cara mengibarkan lembaran ribuan rupiah. "Ambil ini
uang,"teriak warga sembari mengibarkan ribuan rupiah.

Untungnya sejauh ini, meski warga sempat melakukan penyerangan dengan
lemparan batu, ribuan mahasiswa yang hanya berjarak seratus meter dari
lokasi Tugu Proklamasi meminta warga masyarakat untuk menahan diri agar
tidak sampai terjadi bentrokan berdarah.

Daud Agustiana Ibarahim saleh wakil dari mahasiswa, Selasa (10/11) pukul
17.45 masih melakukan negosiasi dengan pimpinan Pam Swakarsa yang menguasai
Tugu Proklamasi. Daud melakukan negosiasi juga membawa pesan warga di mana
warga menghendaki agar senjata bambu runcing dan senjata tajam milik Pam
Swakarsa diserahkan kepada aparat keamanan.

Jika saja selepas mahgrib negosiasi tersebut tidak membuahkan hasil, warga
yang sudah cukup lama menahan diri, bersiap untuk menyerang Pam Swakarsa.
Menurut warga, keberadaan Pam Swakarsa tersebut justru mengancam terjadinya
bentrokan berdarah. "Coba kalau mereka baik-baik dengan menyerahkan
senjata, lalu membiarkan siapa saja memasuki Tugu Proklamasi, kan tidak ada
masalah. Memangnya tugu itu milik mereka,"kata warga.

Yang jadi masalah juga, hampir rata-rata anggota Pam Swakarsa tersebut
tidak dikenali warga. Harap maklum, mereka itu adalah warga dari luar kota
yang tidak menguasai medan Jakarta. Suasana tegang pun juga terlihat di
wajah-wajah anggota Pam Swakarsa. Ada yang terlihat ketakutan.

Memang, keadaan yang berkembang sedemikian memprihatinkan. Bayangkan saja,
warga masyarakat dari luar kota, tidak tahu menahu persoalan politik,
dibawa ke Jakarta, lantas disuruh berhadapan dengan warga masyarakat
setempat, yang lebih mengusai medan dan merasa di situlah mereka merasa
memiliki, betapa pun rasa gentar akan terbit juga.

Dan kalaupun bentrokan terjadi, terlebih sampai harus berdarah-darah, untuk
siapa mereka mengorbankan darah itu, terlebih mengorbankan nyawa? Wahai,
siapa pun yang berada di balik itu semua, nampaknya semua itu harus
dihentikan. Haruskah konflik di elit politik, mengorbankan rakyat kecil
yang tidak tahu menahu persoalan? Tidak harus.

Anggota Komnas HAM, Amaral, mendesak agar aparat keamanan segera menarik
pasukan Kam Swakarsa. "Itu hanya akan mengadu domba rakyat saja. Tak
mengesankan ABRI tak mampu menangangi keamanan,"kata Amaral.

Mobilisasi warga sipil tersebut oleh Amien Rais juga dinilai merupakan
kesalahan fatal yang luar biasa. "Kehadiran mereka itu malah memancing
kekeruhan,"kata Amien Rais. "Saya ingin menyampaikan kepada aparat
keamanan, ada kesalahan yang luar biasa fatalnya, yaitu mereka
memperkenankan pengamanan swasta itu ikut mengamankan SI MPR," katanya.

Menurut dia, jika sudah menggunakan anak muda, memakai truk, memakai ikat
kepala yang agresif, dan mulai menantang kelompok-kelompok yang
sesungguhnya konstitusional, itu kesalahan yang luar biasa. "Jadi saya
mohon pengamanan swasta, mumpung belum terlambat, dibubarkan sama sekali,
supaya ini tidak memancing kekeruhan yang kita tidak tahu implikasi yang
sangat jauh," tandas Amien.

Berbagai desakan untuk membubarkan Kam Swakarsa itu sebenarnya sudah muncul
sejak sebelum SI digelar. Sayangnya, di jaman reformasi ini, masih juga
banyak kuping-kuping yang masih juga pura-pura tuli. Bahkan Kapolri Letjen
Roesmanhadi ketika didesak wartawan Selasa (10/11) mengaku tak tahu menahu
adanya kam swakarsa yang mempersenjatai diri.

Ketika wartawan mengajak Roesmanhadi melihat langsung di lapangan untuk
membuktikan bagaimana sepak terjang Kam swakarsa tersebut, Roesmahandi
menolak. "Saya nanti akan cek. Pokoknya kam swakarsa dilarang keras membawa
senjata apapun,"katanya.

Memang kuping boleh ditulikan, mata boleh dibutakan. Tapi ketika orang
seperti Slamet atau Otong, yang jumlahnya ribuan itu menjadi korban, kelak
mata rakyat tak lagi bisa dibutakan dan telinga rakyat tidak akan bisa
dibuat tuli. Dan sejarah tak pernah tuli, buta ataupun bisu. Sejarah akan
bicara.

>>


Index E-mail Author Previous message Next message